| 09 June 2009 |
| Allah dalam Islam dan Kristen: Serupa tapi Tak Sama, Tak Sama tapi Serupa |
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam. (al-Fatihah: 1-2)
Pada ayat pertama dan kedua dari surat pembuka al-Qur'an di atas dijelaskan bahwa Allah adalah Rabb (sering dibahasaindonesiakan dengan kata Tuhan) alam semesta. Dia Tuhan langit dan bumi dan Tuhan di antara keduanya. Tuhan semua manusia tanpa kecuali.
Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari. (ash-Shaffat: 5) (lihat juga asy-Syu'ara: 26; Hud: 56; al-Baqarah: 163; an-Nisa: 171; dan lain-lain).
Dalil di atas juga membantah orang-orang yang berkata bahwa Allah hanya Tuhan untuk orang Islam saja. Maka jika ada umat lain selain Islam yang memanggil Allah, jangan kita membenci mereka. Allah juga Tuhan semua manusia. Karena itu semua manusia, baik itu Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Zoroaster sekalipun semuanya berhak untuk memanggil Allah tanpa kecuali.
al-Qur'an berkata: Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (ar-Ra'd: 16)
Ayat di atas menjelaskan bahwa ketika orang-orang kafir Quraisy ditanya tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka mengatakan "Allah." Jadi, baik Muslim maupun kafir sekalipun mereka juga percaya bahwa yang Al-Khalik adalah Allah. Hanya saja cara beribadah mereka saja yang keliru. Mereka mengambil sekutu-sekutu dan menyembahnya dengan alasan untuk mendekatkan mereka kepada Allah. Seperti ucapan mereka yang terekam dalam al-Qur'an al-Karim:
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih . Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah : "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (az-Zumar: 3)
Dengan demikian orang Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, dan semua agama di dunia ini menyembah Tuhan yang sama yang mana oleh orang Islam disebut Allah, dengan cara yang berbeda-beda. Umat Yahudi menganggap hanya umat mereka saja yang benar caranya menyembah Allah sedangkan umat non-Yahudi mereka anggap salah. Mereka mengkhususkan petunjuk kepada umat mereka saja sedangkan mereka tidak memperhitungkan umat yang lainnya.
Kata Allah (dengan l dibaca tebal) sangat mungkin berasal dari bahasa dialek Aramaik "Alah-a" (a di belakang adalah partikel sebagaimana partikel "al" dalam bahasa Arab). Kata Allah adalah kependekan dari Al-Ilah kemudian menjadi Allah. Kata ini juga memiliki afiliasi dengan kata dalam bahasa Kanaan "El", serta bahasa Ibrani "Elah", "Eloh", bentuk majestic (penghormatannya) "Elohim". Dari Elohim inilah ada kata "Allahumma." Dilihat dari asal katanya, nampak bahwa orang Arab (baca: Muslim) bukan orang yang pertama mengenal Allah. Justru orang Arab (sekali lagi, baca: Muslim)-lah yang mengenalnya dari agama-agama monoteis sebelumnya yakni Yahudi dan Kristen. Pada suatu masa sekawanan orang-orang Yahudi mengungsi ke jazirah Arab. Di sana, mereka berbaur dengan masyarakat setempat. Dari pergaulan inilah masyarakat Arab mengenal kata "Allah." Sebenarnya nama diri bagi Tuhan orang Yahudi bukan Allah, melainkan YHWH (empat huruf mati Ibrani, sebagian besar membacanya YAHWEH, sebagian lain membaca YEHUWAH; dari cara baca yang kedua inilah muncul sekte Kristen Saksi-Saksi Yehuwah). Akan tetapi di jazirah Arab terlanjur tertanam subur kepercayaan paganisme sehingga "Allah" bagi orang Arab bukanlah Tuhan satu-satunya yang disembah. Mereka membuat patung-patung untuk menjadi perantara mereka dalam beribadah. Sedangkan orang Yahudi sendiri merasa tidak ada kewajiban bagi mereka untuk membenahi cara penyembahan sebab mereka hanya mengkhususkan petunjuk untuk orang Yahudi saja. Kemudian, datanglah rombongan orang-orang Kristen. Dan orang-orang Kristen inilah yang mula-mula memberikan sentuhan "monoteisme" kepada "Allah." Sebagian ada yang menganut Kristen namun lebih banyak yang masih menjadi paganis. Sebenarnya, orang-orang Arab telah mengenal keesaan Tuhan lewat jalur Nabi Ismail alaihissalam. Namun seiring berjalannya waktu, para pengikut Nabi Ibrahim (yang disebut al-Hanif) ini mulai tidak terdengar suaranya. Lagipula, lama sekali tidak pernah ada nabi yang diutus di tengah-tengah mereka untuk memberi peringatan. Jadi, pada saat Rasulullah diutus di tengah-tengah umat manusia, masyarakat Arab pada waktu itu bukanlah masyarakat yang buta akan Allah. Nabi Muhammad saw tidaklah diutus untuk memperkenalkan Allah karena orang-orang Arab sudah tahu siapa Allah itu. Tugas Nabi Muhammad adalah untuk memberikan pengajaran bagi seluruh umat manusia untuk memurnikan agama, seperti firman Allah:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (al-Bayyinah: 5)
Serupa tapi Tak Sama
Meskipun sama-sama menggunakan kata "Allah", ternyata ada perbedaan penggunaan antara Islam dan Kristen. Dalam Islam, "Allah" dianggap nama diri Tuhan. Sebenarnya selain "Allah", Dia memiliki nama-nama yang baik (al-asma' al-husna). Menurut sebuah hadits Nabi jumlahnya ada 99 al-asma' al-husna. Macam-macam al-asma' al-husna biasa kita dapati di sampul kitab al-Qur'an al-Karim. Itu adalah hasil kajian dari para ulama melalui penyelidikan ayat-ayat al-Qur'an. Padahal jika diselidiki lagi, ada sebutan-sebutan lain selain yang 99 itu. Maka mungkin saja ada lebih banyak lagi sebutan selain yang disebutkan dalam al-Qur'an. Dengan demikian sebenarnya "Allah" sendiri bukanlah nama tertentu. Ia tidak lain adalah sebutan yang paling populer dalam Islam untuk menyebut DZAT YANG WAJIB DISEMBAH. Barangkali nama-nama yang lain itu mencakup YHWH seperti orang Yahudi biasa menyebut-Nya, juga Brahman dan Atman sebagaimana orang Hindu menyebutnya, "Tian" seperti yang disebut orang Konghucu. Maka baik YHWH, Brahman (Atman dalam diri manusia), Tian, Sang Hyang Widhi Wase, Dev, semua merujuk pada satu maksud: Allah. Yang membedakan antara umat satu dengan umat yang lain adalah cara penyembahannya. Orang Muslim menyembah-Nya tanpa perantara, mayoritas sekte Kristen menjadikan Yesus Kristus (Isa al-Masih as) sebagai perantara, orang Katolik menjadikan Bunda Maria, dan orang Hindu menjadikan dewa-dewa untuk mendekatkan diri pada Brahman, demikian pula umat-umat agama lainnya. Pada suatu ketika sering ayat-ayat al-Qur'an diturunkan dengan menyebut ar-Rahman sehingga orang menganggap bahwa nama diri-Nya adalah ar-Rahman, lalu turun ayat:
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (al-Isra: 110)
Lain halnya dengan umat Muslim, umat Kristiani (maksudnya umat Kristiani Indonesia dan negara-negara serumpun) menggunakan kata "Allah" (dibaca l tipis) BUKAN SEBAGAI NAMA DIRI, melainkan sebagai nama tak tentu. Sedangkan kata untuk menyebut nama diri DZAT YANG PATUT DISEMBAH adalah Y H W H yang diterjemahkan dengan TUHAN (semua huruf kapital). Jadi, selain TUHAN, ada banyak makhluk yang disebut Allah tapi bukan untuk disembah. "Allah" sendiri merupakan terjemahan dari kata Ibrani "Elohym". Bentuk tunggalnya adalah Eloh, sedangkan Elohym adalah bentuk jamak. Apakah itu berarti TUHAN itu lebih dari satu? TIDAK!!!! akhiran ym di belakang kata Eloh bukan menunjukkan bahwa DIA banyak, namun itu adalah bentuk kehormatan (majestic, kesopanan). Selain Elohym, ada beberapa kata dalam bahasa Ibrani yang diberi akhiran ym yang meskipun bentuknya jamak tapi artinya tunggal, seperti panym (wajah), maym (air), chayyim (hidup), shamayim (langit), dan lain-lain. Ada dua makna Elohim (Allah) yakni 1) Allah yang sesungguhnya yang oleh Alkitab nama-Nya YHWH, serta 2) Allah yang tidak sesungguhnya, maksudnya adalah makhluk-makhluk yang memiliki tugas Allah yakni para nabi, malaikat, dan orang-orang terpilih. Misalnya:
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu. (Keluaran 7:1)
Perhatikan ayat di atas. TUHAN mengangkat Musa sebagai Allah bagi Firaun, tentu maksudnya TUHAN tidak menjadikan Musa untuk menjadi sesembahan Firaun. Tapi maksudnya pastilah Musa diutus sebagai rasul Allah kepada Firaun. Musa bertindak atas nama Allah. Contoh lainnya:
maka haruslah tuannya itu membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau ke tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup. (ITB Keluaran 21:6)
22:8 Jika pencuri itu tidak terdapat, maka tuan rumah harus pergi menghadap Allah untuk bersumpah, bahwa ia tidak mengulurkan tangannya mengambil harta kepunyaan temannya. 22:9 Dalam tiap-tiap perkara pertengkaran harta, baik tentang seekor lembu, tentang seekor keledai, tentang seekor domba, tentang sehelai pakaian, baik tentang barang apapun yang kehilangan, kalau seorang mengatakan: Inilah kepunyaanku--maka perkara kedua orang itu harus dibawa ke hadapan Allah. Siapa yang dipersalahkan oleh Allah haruslah membayar kepada temannya ganti kerugian dua kali lipat. (ITB Keluaran 22:8-9)
Bandingkan dengan Alkitab versi King James: Then his master shall bring him unto the judges; he shall also bring him to the door, or unto the door post; and his master shall bore his ear through with an aul; and he shall serve him for ever. (KJV Exodus 21:6)
22:8 If the thief be not found, then the master of the house shall be brought unto the judges, to see whether he have put his hand unto his neighbour's goods. 22:9 For all manner of trespass, whether it be for ox, for ass, for sheep, for raiment, or for any manner of lost thing which another challengeth to be his, the cause of both parties shall come before the judges; and whom the judges shall condemn, he shall pay double unto his neighbour. 22:10 If a man deliver unto his neighbour an ass, or an ox, or a sheep, or any beast, to keep; and it die, or be hurt, or driven away, no man seeing it: (KJV Exodus 22:8-9)
Pada Alkitab Terjemahan Baru terbitan Lembaga Alkitab Indonesia disebutkan kata "Allah" sedangkan pada King James Version disebutkan kata "the judges". Di sini, "the judges" = "Allah" tapi bukan berarti "the judges" tadi patut disembah, melainkan maksudnya adalah ia dianggap bertindak atas nama Allah sebagai hakim.
Contoh lainnya:
Aku sendiri telah berfirman: "Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. -- (Mazmur 82:6)
Untuk lebih jelasnya, kita kutipkan selengkapnya:
82:6. Aku sendiri telah berfirman: "Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. -- 82:7 Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas." 82:8 Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa. (Mazmur 82:6-8)
Perhatikan, apakah Allah seperti manusia yang mati? Tentu tidak. Maksudnya, orang-orang terpilih itu bertindak atas nama Allah Sang Hakim.
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (Yesaya 9:5)
Ayat di atas seringkali digunakan sebagai ayat yang menunjukkan nubuat akan lahirnya Yesus Kristus. Ayat di atas sebenarnya berkenaan dengan anak raja Ahaz. Tapi jika digunakan untuk menunuatkan Yesus, sah-sah saja karena baik anak raja Ahaz maupun Yesus sama-sama Juru Selamat. Di situ disebutkan Allah Yang Perkasa. Maksudnya bukan berarti anak yang lahir itu adalah Allah yang kita sembah. MASYA ALLAH!!!
Poin-poin yang dapat kita ambil dari pembahasan di atas adalah: 1. Allah adalah Tuhan Semesta Alam, Tuhan Semua Orang, Tuhan Semua Agama 2. Perbedaan antara umat satu dengan umat yang lain terletak pada cara menyembah Allah 3. Meskipun sama-sama menggunakan kata "Allah" ternyata penggunaannya berbeda antara Islam dan Kristen Islam: menggunakannya sebagai nama tertentu Kristen: menggunakannya sebagai nama tak tentu sesuai dengan obyek yang dikenai kata "Allah"
Baca juga: Apakah Yesus adalah Allah secara Alkitabiah?
Labels: Kristologi Baca Selengkapnya... |
dipos olehMaxalmina Ad-Daraquthny At-Tamany @ 20:45  |
|
|
|
| 01 June 2009 |
| Benarkah Yesus adalah Allah secara Alkitabiah? |
Para pembaca Kristen pasti akan menjawab YA untuk judul posting ini. Orang Kristen pada umumnya (dan boleh juga dikatakan semua orang Kristen) meyakini bahwa Yesus, selain adalah manusia, beliau juga adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Ayat yang dijadikan dasar adalah:
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yoh 1:1)
"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran." (Yoh 1:14)
Jelaslah bahwa Firman yang dimaksud di sini adalah Yesus Kristus. Untuk lebih jelasnya, silakan baca keseluruhan pasal 1 dari Injil Yohanes. Jadi, menurut ayat Yoh 1:1 di atas bahwa Yesus itu adalah Firman dan karena Firman itu adalah Allah, maka Yesus adalah Allah sendiri. Begitulah simpulan secara literal jika kita membaca pasal 1 Injil Yohanes. Perlu diketahui bersama, bahwa bunyi Yoh 1:1 bukan perkataan (pengakuan) Yesus sendiri sebagai obyek dari Injil. Ayat itu adalah dari tulisan penulis Injil Yohanes sendiri. Namun demikian ayat ini telah terlanjur dijadikan dalil kuat ke-Allah-an Yesus. Benarkah demikian adanya??? Pada ayat yang lain masih dalam Injil Yohanes, sang penulis meriwayatkan ucapan Yesus, bahwa beliau memberi pengakuan tentang dirinya:
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. (Yoh 13:13)
Tidak akan kita dapati satu pun ayat dalam Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa Yesus mengakui sendiri bahwa dirinya sebagai Tuhan selain dari ayat di atas. Dengan demikian, ayat Yoh 13:13 adalah satu-satunya pengakuan Yesus tentang ketuhanan beliau. Sahabat Muslim yang mempelajari Kristologi sering kali menantang orang Kristen dalam debat untuk menunjukkan satu ayat saja pengakuan Yesus yang menyebut dirinya Tuhan. Mereka yakin tidak ada, karena itu mereka yakin pula bahwa Yesus tidak pernah mengaku dirinya Tuhan. Dalam suatu forum, pernah Sahabat Muslim dengan antusias mengutip ayat-ayat alkitab untuk mendukung argumentasinya. Lalu suatu ketika ia menantang orang seisi forum untuk menunjukkan adakah dalam Injil dikatakan bahwa Yesus mengaku dirinya Tuhan. Tidak ada satu pun netter Kristen yang menjawab. Bahkan kebanyakan mereka malah mencemooh Sahabat Muslim kita. Dan Sahabat Muslim kita ini rupanya telah merasa memang dalam perdebatan. Kemudian, saya menyuruh Sahabat Muslim kita ini untuk membuka Yoh 13:13. Apa yang terjadi kemudian? Ia tidak mau mengutipnya di dalam forum. Mungkin dia merasa kalah atau bagaimana, saya tidak tahu. Pada kesempatan ini saya juga ingin mengkritik Para Sahabat Muslim agar dalam berdiskusi atau berdebat menggunakan bahasa yang sopan dan yang paling penting harus rendah hati, jangan menggebu-gebu. Seakan-akan dia sudah menjadi pemenang. Jika ayat ini benar, maka ayat ini bertentangan dengan firman Allah dalam al-Qur'an:
Dan ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah ?". 'Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku . Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". (Al Maidah: 116)
Sungguh, jikalau demikian, maka Kristen dan Islam adalah dua agama yang bertolak belakang satu sama lain. Yang satu menuhankan Yesus sementara yang lainnya memanusiakannya.
Ayat-ayat Injil di atas saya kutip dari Alkitab Terjemahan Baru terbitan Lembaga Alkitab Indonesia. Yang namanya terjemahan, pasti tidak akan bisa menyamai naskah aslinya. Beruntunglah umat Muslim yang memiliki kitab al-Qur'an yang dengan mudah didapati naskah asli dari kitab al-Qur'an. Berbeda dengan Alkitab. Perjanjian Lama aslinya ditulis dengan bahasa Ibrani (beberapa ayat ditulis dalam dialek bahasa Aram) dan Perjanjian Baru ditulis dengan bahasa Yunani. Waktu saya pergi ke toko buku IMMANNUEL Manado dan menanyakan harga Alkitab beserta naskah aslinya, sungguh mahal sekali. Perjanjian Lama plus naskah asli bahasa Ibrani dihargai sekitar 130.000 sedangkan yang Perjanjian Baru plus naskah asli bahasa Yunani dihargai 70.000. Jika ingin memiliki dua-duanya harus merogoh kocek 200.000. Kalau ingin membaca al-Qur'an (dengan naskah aslinya) hanya perlu beberapa puluh ribu saja sudah dapat. Karena sulitnya (baca: mahalnya) akses ke bahasa asli dari kitab suci yang dipegang oleh Yahudi dan Kristen inilah, barangkali yang menyebabkan minimnya minat mempelajari Alkitab sesuai bahasa aslinya. Berbeda dengan al-Qur'an. Karena sangat mudahnya akses ke sana, maka kita dapat dengan mudah mempelajari bahasa Al-Qur'an dan jika mau mempelajari isi kandungan al-Qur'an meskipun bukan Muslim sekalipun. Yoh 1:1 memang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Namun, coba Anda bandingkan dengan pernyataan Yesus pada ayat yang lain:
Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah--sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? (Yoh 10:34-36)
Ternyata, yang mendapat gelar "Allah" itu bukan hanya DIA saja, tapi bahkan makhluk-makhluk surgawi pun juga disebut Allah (menurut penjelasan ayat di atas). Tentu saja Allah yang dimaksud di sini bukan Allah yang disembah, melainkan jika dibahasakan dalam Islam artinya utusan Allah. Perumpamaannya adalah seperti ini: Anda seorang pegawai dan mendapat perintah dari atasan untuk menyampaikan pesan kepada bawahan lainnya untuk melakukan begini dan begitu. Anda, dalam hal ini bisa disebut atasan karena pada saat itu Anda menyampaikan pesan dari atasan Anda, meski secara hakiki Anda cuma orang suruhan. Ayat di atas adalah pembelaan Yesus karena beliau dituduh mempersamakan dirinya dengan Allah sehingga orang-orang Yahudi hendak memukulnya dengan batu. Kemudian Yesus menjelaskan maksud perkataannya itu, yakni bahwa beliau adalah Sang Pembawa Firman. Nah, artinya, jika beliau mengatakan bahwa beliau adalah Allah, bukan berarti beliau itu harus disembah. Tapi, maksud beliau adalah beliau membawa pesan dari Allah untuk disampaikan kepada Israel. Untuk lebih jelasnya, buka Keluaran 7:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu. (Keluaran 7:1)
Pada ayat di atas, Musa pun juga disebut Allah. Tentu saja Allah yang dimaksud di sini bukan Allah yang disembah, tapi maksudnya adalah Musa bertindak atas nama Allah yang dalam bahasa Islam disebut "utusan Allah." Sampai di sini jelaslah bahwa meskipun ditulis pada Yoh 1:1 bahwa Yesus adalah Allah, namun bukan berarti Yesus itu sama dengan Allah secara hakikat melainkan secara tujuan. Artinya, Yesus (Isa al-Masih) adalah Utusan Allah yang bertindak atas nama Allah untuk menyampaikan pesan kepada Israel bahwa hanya Allah saja kita beribadah. Kata Yesus:
"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yohanes 17:3).
Makanya ada dua pengertian Allah (Ibrani: Eloh, Elohim; Yunani: Theos). Jika merujuk pada selain DIA, maka itu bukan Allah sejati, tapi utusan Allah. Dan jika merujuk pada DIA, maka itu artinya Allah sejati. Contoh lain yang menunjukkan bukan Allah sejati karena kata Allah yang tidak merujuk kepada DIA:
"Aku sendiri telah berfirman: "Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. -- Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas." Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa." (Mazmur 82:6-8).
Pada ayat di atas, makhluk-makhluk surgawi juga disebut Allah.
Ibrani 1:8 berbunyi: "Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran." (Ibrani 1:8).
Ayat di atas sebenarnya kutipan dari Mazmur 45:7-8 yang berbunyi:
"(45-7) Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran. (45-8) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu." (Mazmur 45:6-7).
Mengenai bunyi Yohanes 13:13 bahwa dalam Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Yesus mengakui dirinya sebagai Guru dan Tuhan. Jika Yesus sebagai Guru, ini juga kita setuju. Tapi apakah benar bahwa Yesus itu adalah Tuhan seperti pengakuannya? Elijah Syeikh adalah seorang profesor mantan Kristen dari Iran yang telah memeluk Islam. Kecintaannya terhadap al-Masih membuatnya tidak berhenti mempelajari sabda-sabda beliau dalam Injil. Beliau menuangkan kecintaannya dalam bukunya "Ash-Shahih min Injil al-Masih" yang dalam terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Citra tahun 2007 dengan judul "The True Gospel of Christ." Buku tersebut membahas makna kata-kata dan perumpamaan yang ada dalam Injil. Nampaknya, penerjemah Bahasa Indonesia memilih mengutip langsung terjemahan Injil dari Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia. Sampai pada Yohanes 13:13, penulis membuat catatan akhir No. 165 (hal. 258):
"Inilah penjelasan lain dari al-Masih tentang posisinya sebagai guru dan pemimpin bukan lainnya dan bahwa dia sama sekali bukan Tuhan dan barangsiapa yang menyatakan bahwa ia Tuhan maka jelas sekali bahwa dia telah menyalahi al-Masih." Waktu saya membacanya saya merasa amat sangat heran dan aneh. Padahal di Yoh 13:13 dikutip jelas bahwa Yesus mengaku dirinya sebagai Guru dan Tuhan. Tapi pada catatan akhirnya dikatakan bahwa ayat ini menyatakan bahwa Yesus mengku BUKAN TUHAN! Pertanyaan ini demikian menggelitik sampai saya membaca Alkitab terjemahan Bahasa Arab (bahasa di mana bukunya diterjemahkan ke bahasa Indonesia):
antum tad'uunanii mu'alliman wa sayyidan wa hasanan taquuluuna liannii anaa kadzaalika (Yahya 13:13)
Alkitab Bahasa Arab (terjemahan Smith & Van Dyke) jelas menerjemahkannya dengan mu'allim (pengajar, guru) dan sayyid (ketua, pemimpin, penghulu, tetua) DAN BUKAN TUHAN!!!!!! Pada naskah aslinya (bahasa Yunani) dikatakan:
humeis phOeneite me ho didaskalos kai ho kurios kai kalOs legete eimi gar
Kata kurios pada ayat di atas bisa bermakna Tuhan dan juga bisa bermakna Tuan tergantung obyeknya (bandingkan dengan penerjemahan kata Elohym pada pembahasan sebelumnya). Nah, jika merujuk kepada Yesus, yang sebagai manusia biasa, tentu kata yang lebih tepat adalah Tuan, bukan Tuhan, kan! Apalagi, dikatakan bahwa beliau adalah Guru. Lebih tepat dikatakan Guru dan Tuan daripada dikatakan Guru dan Tuhan. Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia tidak konsisten dalam mengartikan kata Kurios. Kadang berarti Tuhan, kadang pula berarti Tuan. Inilah yang menyebabkan para pembaca kebingungan. Seandainya kata Kurios itu tidak dibumbui unsur politeisme, tentu pernyataan Yohanes 13:13 adalah pernyataan yang biasa-biasa saja, bukan pernyataan ilahiah sama sekali.
Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. (Matius 10:25)
Kata Kurios dalam ayat di atas diartikan tuan. Tapi kenapa pada Yoh 13:13 kok diartikan Tuhan? Inilah yang menjadi tanda tanya. Sebagai bahan perbandingan lebih lanjut, bandingkan satu ayat dengan dua Alkitab terjemahan yang berbeda:
Terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Baru: Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. (Kisah Para Rasul 26:15)
Terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-Hari: Maka saya berkata, 'Siapakah Engkau, Tuan?' Dan Tuhan menjawab, 'Akulah Yesus yang engkau aniaya. (Kisah Para Rasul 26:15)
Bandingkan juga dengan Alkitab terjemahan bahasa Arab oleh Smith & Van Dyke: Faqultu ana: man anta yaa sayyid? Faqaala: Ana Yasuu' alladzii anta tadhthahiduhu Sayyid =Tuan, bukan TUHAN!
Terbuktilah bahwa secara alkitabiah Yesus adalah utusan Allah, bukan Allah yang disembah. Jadi jawaban untuk judul post ini adalah: TIDAK.
Labels: Kristologi Baca Selengkapnya... |
dipos olehMaxalmina Ad-Daraquthny At-Tamany @ 20:48  |
|
|
|
|
| anti kristenisasi, pemurtadan, dan penistaan agama |
| Tentang Kami |
|

Nama: Maxalmina Ad-Daraquthny At-Tamany
Kantor: Sidoarjo, East Java, Indonesia
Tentang Kami: yang mau diskusi, tabayun, beradu argumentasi, dll, silakan tulis di sini atau via email...
Posisi peta: 1°29'6.35"N 124°50'34.62"E
Lihat profil lengkap kami
|
| Pos Sebelumnya |
|
| Arsip |
|
|
| Kotak Seruan
|
Katakanlah: "Inilah jalan ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (Yusuf: 108) |
| Links |
|
|